RUNTUHNYA SYURA, LAHIRNYA DINASTI: PERGESERAN POLITIK ISLAM DARI KHALIFAH MENUJU MONARKI HEREDITER UMAYYAH
Keywords:
Kata Kunci: Dinasti Umayyah, khalifah syura, monarki herediter, Muawiyah bin Abu Sufyan, politik Islam., Dinasti Umayyah, khalifah syura, monarki herediter, Muawiyah bin Abu SufyanAbstract
Transformasi sistem pemerintahan Islam dari khalifah syura ke monarki turun-temurun pada zaman Dinasti Umayyah adalah salah satu dari perubahan yang paling berarti dalam Transformasi sistem pemerintahan Islam . Perubahan ini terjadi seiring berakhirnya era Khulafaur Rasyidin dan berdirinya Dinasti Umayyah di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 661 M. Sistem pemerintahan yang sebelumnya berlandaskan musyawarah, baiat, dan legitimasi umat bergeser menjadi sistem monarki dinasti yang berpusat pada garis keturunan keluarga berkuasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis berbagai faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut serta implikasinya bagi perkembangan politik Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan, dengan sumber data berupa buku, jurnal, artikel, dan dokumen sejarah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Islam dan pembentukan Dinasti Umayyah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi tersebut dipengaruhi oleh ketidakstabilan politik pascaFitnah Kubra, kemampuan politik Muawiyah dalam membangun pemerintahan terpusat di Damaskus, serta luasnya wilayah kekuasaan Islam. Dampak positifnya meliputi terciptanya stabilitas administratif, peningkatan efisiensi birokrasi, dan perluasan wilayah Islam. Namun, perubahan ini juga menuai kritik karena dianggap menghilangkan nilai musyawarah dan egalitarianisme dalam Islam. Selain itu, sistem monarki herediter memunculkan perdebatan seputar legitimasi politik yang mewarnai dinamika politik Islam pada masa-masa berikutnya. Dengan demikian, era Umayyah menjadi titik balik fundamental dalam konsep kekuasaan politik Islam, dari sistem khilafah syura menuju kerajaan dinasti yang diwariskan secara turun-temurun.